Tekwan Ayam

Tekwan Ayam-nya Hani. Maaf gambar jelek. Pake BB ambilnya :))

Tekwan Ayam-nya Hani. Maaf gambar jelek. Pake BB ambilnya :) )

Saya cukup sering bikin menu ini untuk Hani. Selain karena mudah, juga karena cukup “bergizi”. Plus, Hani doyan.

Berikut bahan dan cara memasaknya ya mom. Siapa tahu ada yang mau iseng bikin juga :p

Oya ini takarannya pake jurus ngira-ngira semua mom. Maklum resepnya juga bukan dapet dari buku/googling. Resepnya juga “feeling” dan ngira-ngira hahaha *ditimpuk*

Bahan:
Daging ayam, terserah seberapa
Wortel/sawi dipotong2x
Tepung terigu
Telur (bisa juga gak pakai, ganti air matang)
Keju cheddar (opsional)
Garam (di bawah setahun bisa ditiadakan)

Cara memasak:
1. Blender jd satu daging ayam dan sayuran (wortel/sawi), campur sedikit air
2. Hasil blenderan tersebut dicampur lagi dengan tepung terigu dan telur (kalau pakai). Aduk-aduk hingga semua tercampur merata. Campurkan keju parut dan garam.
3. Rebus air hingga mendidih
4. Sendok adonan yang sudah jadi dan masukkan ke dalam air yang mendidih
5. Jika sudah matang, maka tekwan akan mengapung.

Mudah, kan? :p

Untuk kuahnya, cara bikinnya sama lah kayak bikin sop biasa. Hehe

Selamat mencoba ya, mom ;)

Memupuk Kebiasaan Menumbuhkan Karakter

Saya dan Sidik pernah berbincang bahwa anak adalah investasi masa depan yang sangat penting. Karena itu, perlu dibekali dengan hal-hal baik. Dengan harapan, supaya di akhirnya ia memberikan return yang baik pula. Return yang sangat kami harapkan salah satunya adalah anak kami dapat tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter baik, kuat, juga berakhlak mulia.

Karena itulah, kami sepakat untuk memberi Hani “pembekalan” dengan memupuk kebiasaan-kebiasaan baik. Sebagai contoh, untuk memupuk kemandirian, kami tidak membiasakan Hani didorong-dorong dengan stroller ketika kami sedang bepergian di luar. Kami membiarkan Hani untuk bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya.

Hani berjalan-jalan di taman dan tanpa takut mengejar-ngejar kucing

Hani berjalan-jalan di taman dan tanpa takut mengejar-ngejar kucing

So, ketika anak-anak seusianya (atau bahkan lebih tua) “dimanjakan” dengan stroller ketika berjalan-jalan di luar, Hani dengan cerianya melangkahkan kaki kecilnya ke sana kemari menuju hal-hal yang membuatnya tertarik.

Membiarkan Hani makan sendiri dengan memberinya potongan makanan

Membiarkan Hani makan sendiri dengan memberinya potongan makanan

Masih untuk kemandirian, ketika sesi makan berlangsung, saya terkadang turut memberikannya sendok kecil agar ia juga merasakan bagaimana serunya makan sendiri. Alhamdulillah, di usianya yang hampir menginjak 14 bulan, Hani sudah semakin jago menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.

Banyak hal lain juga yang kami coba bekali untuk Hani. Kami berusaha membuat Hani akrab dengan buku dan mengurangi interaksinya dengan TV (walau tontonannya film khusus “baby”).

Buku-buku Hani

Buku-buku Hani

Mengapa? Sebagai informasi, TV dapat mengurangi interaksi verbal antara orang tua dan bayi, yang dapat menunda pengembangan bahasa anak-anak (Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine edisi Juni 2009). Karena itu, kami berusaha, untuk mengakrabkan Hani dengan buku. Melalui buku kami ikutan terlibat dalam interaksi verbal, bercerita mengenai hal-hal yang tertera di buku kepada Hani :D

Hani pun sudah mulai kami berikan “toilet training”. Jika ingin pup, kami giring Hani ke toilet dan memberikannya dudukan khusus. Sebelum masuk ke bak mandi pun, saya berikan instruksi kepada Hani untuk pipis dulu.

Dan masih banyak kebiasaan baik lainnya yang kami berusaha pupuk sejak dini. Karena kami sadar, karakter terbentuk melalui kebiasaan. Jika ingin anak dengan karakter baik, mulailah pupuk kebiasaan baik dari sekarang. Pastinya tidak mudah, tetapi setidaknya, sebagai orangtua kita harus mengusahakan yang terbaik.

Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller

[Curcol #2] Istirahat Oy

Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam.. Si CS (customer service) mengubah Personal Message BBM-nya menjadi “Dibalas besok lagi ya. Thx”. Dan memasang status “Istirahat” yang disertai icon bulat merah yang kalau di dunia perlalulintasan berarti tanda dilarang masuk.

Tiba-tiba beberapa detik berselang

Satu BBM masuk..

A (customer A): “Mau pesan bla bla dong..”

CS: “….” Nyuekkin A gak bales BBM-nya

Kemudian, beberapa saat kemudian

Satu BBM masuk lagi..

B (customer B): “Jual anu anu itu itu gak?”

CS: “….” Nyuekkin B sambil geleng-geleng kepala sendiri

Belum selesai geleng-geleng, BBM-nya kedip lagi..

C (customer C): “Aku pesan a b c d e f g h i j … z kak”

CS: %±^/! graaaooooo

dan berpikir ulang dalam hati

“Jadi apa sebenarnya arti kata istirahat? Mengapa A, B, C tidak paham? Apakah harus didefinisikan ulang lagi kata istirahat dalam KBBI. Menurut kamu, apa sih istirahat itu?”

* * *

*) Hanya curcol seorang CS galau. Gak usah ditanggapi serius. Kalau gak lucu ya maaf-maaf, emang gak bermaksud ngelucu. Cuman curcol aja kok. Ciyus deh.

Tugas Istri: Sumur, Kasur, Dapur?

Nemu tulisan ini di FB, rasa-rasanya bagus untuk dibaca dan direnungkan bersama ;)

* * *

Beberapa hari yang lalu saya terhenyak melihat status FB seorang akhwat yang menuliskan – setelah menghadiri sebuah kajian keluarga sakinah- : dengan banyaknya potensi seorang wanita, Islam memuliakannya dengan sumur kasur dan dapur. Deg .. begitu kesan pertama saya setelah membaca status tersebut. Bayangan kekhawatiran saya segera berkelebat, jika sebuah kajian keluarga sakinah saja bisa menyimpulkan hal semacam itu, jangan-jangan apa yang ada dalam benak sebagian suami pun tak jauh berbeda.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para ummahat, wanita, dan istri yang selalu ikhlas menunaikan tugas-tugas domestik di atas, nyaris tanpa keluhan, namun sejatinya tidaklah demikian cara Islam memperlakukan wanita, apalagi jika itu disebut dengan cover kewajiban mulia. Bisa jadi ada pandangan yang berbeda seputar hal ini, yaitu ketika ditanyakan : benarkah tugas atau kewajiban istri adalah sumur, kasur dan dapur ? Atau dalam istilah yang populer berarti cuci baju, piring, membersihkan rumah, masak dan pelayanan kebutuhan biologis ?.

Untuk menjawabnya, yang menjadi acuan saya cukuplah sebatas yang disimpulkan oleh Dr. Wahbah Zuhaily, pengarang masterpiece fiqh perbandingan madzhab yaitu Fiqh Islamy wa Adillatuhum dimana beliau menyampaikan bahwa kewajiban nafkah pada istri adalah lima hal :

Pertama : Makan minum dan Lauk pauk
Yang perlu digaris bawahi di sini adalah tugas suami menghadirkan makan, minum dan lauk pauk kepada istri, artinya yang siap saji dan dinikmati oleh sang istri, jika perlu sekalian disuapi hingga tugas istri lebih mudah, tinggal membuka mulut saja. Yang disalah pahami selama ini adalah, suami menghadirkan bahan makanan dan sayuran mentah plus bumbu, lalu menjadi kewajiban istri -yang mungkin sudah lapar- untuk berjibaku terlebih dahulu di dapur sebelum akhirnya sukses bisa menikmati makanan tersebut. Sekali lagi ini bukan untuk mempermasalahkan para istri yang asyik dan menikmati perannya di dapur. Hanya sekedar menjelaskan kepada para suami, betapa mulianya mereka selama ini memasak makanan yang semestinya diterima dari suami berupa makanan siap saji.

Kedua : Pakaian
Dalam hal ini tidak banyak permasalahan, tinggal secara teknis para istri dan suami bisa bermusyawarah tentang kebutuhan pakaian yang semestinya. Kenapa tidak banyak permasalahan, karena sebagian besar pakaian didapat dari membeli jadi atau pesan di penjahit, bukan sang istri yang langsung mengerjakan dengan tangannya sendiri.

Ketiga : Tempat Tinggal
Perlu diperhatikan karena kenyamanan sang istri tentu berada di keluarga yang dicintainya. Jangan sampai ketenangan keluarga terganggu karena hadirnya orang lain bersama, atau terlampau terbatasnya rumah yang ditinggali, yang menghadirkan kepenatan berlebih dan gelisah tanpa ujung. Rasulullah SAW juga mengakui bahwa rumah yang lapang nan nyaman termasuk kebahagiaan dunia yang layak untuk diusahakan. Suami wajib menyiapkan rumah untuk istri, meskipun untuk sementara dalam bentuk kontrakan.

Keempat : Layanan Khadimat / Pembantu Rumah Tangga
Ini hal yang menarik, ternyata menyediakan PRT atau mereka yang membantu istri termasuk kewajiban nafkah suami. Hal ini bisa dipahami karena keterbatasan seorang istri untuk mengurus rumah yang ditinggali, apalagi jika sudah ada anak-anak buah hati yang berjajar mengantri di belakang. Tidak ada pilihan selain untuk menyediakan asisten bagi sang istri, terlebih jika sang istri mempunyai potensi yang luar biasa untuk berkontribusi bagi masyarakatnya.

Kelima : Alat Kebersihan dan Perabot Rumah Tangga
Saat ini banyak pekerjaan rumah yang menjadi luar biasa ringkas dengan hadirnya kecanggihan teknologi, yang mau tidak mau atau suka tidak suka sangat membantu sebagian tugas kerumahtanggaan yang biasanya dihandel oleh sang istri. Sebut saja setrika, mesin cuci, kompor gas, pembersih debu, dan lain sebagainya, ternyata merupakan bagian dari nafkah yang harus disiapkan oleh seorang suami.

Walhasil, kesimpulan dari lima aplikasi nafkah suami kepada istri versi Dr. Wahbah Zuhaily menghasilkan satu getaran hebat dalam hati saya pribadi, betapa istri saya selama ini telah melakukan banyak hal mulia yang sebenarnya menjadi ‘pekerjaan rumah’ atau tugas bagi seorang suami untuk menyiapkannya.

Tanpa pemahaman di atas, bisa jadi yang terjadi adalah seorang istri yang kepayahan, bukan saja karena melahirkan dan menyusui berkali-kali, namun juga ditambah seabreg kegiatan rumah tangga yang takkan pernah bisa usai diselesaikan. Bersedih mendengar beberapa ummahat meninggal karena sakit dalam waktu dekat ini. Tentunya semua adalah bagian dari takdir yang harus kita terima dengan sepenuh kesabaran. Namun tentu sekerat hikmah dan pengingatan bisa kita ambil dan tunaikan, yaitu bisa jadi karena secara umum kita belum terlampau sadar untuk menjaga dan mengecek kesehatan secara berkala, ataupun bisa jadi juga karena proses ‘pelemahan bertahun-tahun’ yang tidak disadari karena aktifitas melahirkan, menyusui, dan ditambah lagi urusan ‘sumur kasur dapur’ yang dijalani dengan begitu tulus mulia.

* * *

Hatta Syamsudin
Penulis, Pengajar Pesantren Mahasiswa Arroyan Solo, Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis. Silahkan download kumpulan presentasi kami dengan klik disini. Untuk permintaan mengisi Seminar, Ceramah dan Training silahkan klik disini, atau langsung hubungi no 081329078646 dan email via sirohcenter@gmail.com

[Curcol #1] COD Depok-Surabaya

Ujug-ujug ada BBM dari customer baru..

C (customer): “Belinya bisa cod gaa ?” FYI: COD itu cash on delivery, bayar barang di tempat ketika barang diantarkan

CS (customer service): “Gk bisa kk”

CS: “Kalo kk di Depok, langsung ke
toko aja bisa” inisiatif menawarkan demikian karena dipikirnya si C yang nanya COD tinggal di sekitaran Depok

CS: “Tokonya ada di bla bla bla kak” menyebutkan alamat toko

C: “Yaahh.. Aku di surabayaaa..

CS: “Apalagi di surabaya kk, gimana cara cod hehe” sambil menahan gregetan dalam hati

* * *

*) Mungkin hanya kalangan tertentu yang mengerti :p Gak masalah bagi penulis, ya ini supaya emosi hati tersalurkan, supaya tetap sehat jiwa raga :p