Perbincangan Menarik Para Bapak tentang Hidup dan Masa Depan
Sabtu sore itu, di perjalanan pulang dari daerah Jawa Barat, saya yang duduk di kursi penumpang tengah memasang telinga baik-baik akan pembicaraan ringan (tapi serius) antara dua orang dewasa di kursi pengemudi dan penumpang depan.
Topik yang mereka bicarakan adalah hal biasa bagi lelaki yang sudah berkeluarga; tentang pekerjaan, keluarga, anak, kesempatan bisnis, sampai rencana masa pensiun. Saya yang baru saja membentuk keluarga dan diamanahi sebagai kepala keluarga merasa bahwa perbincangan ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi saya.
Saya tertarik bercerita soal perlunya mempunyai suatu usaha/bisnis/startup di samping pekerjaan utama di sebuah perusahaan. Bahwa laki-laki yang bekerja sebagai karyawan pun sebaiknya mulai berpikir sedari muda untuk mempunyai pemasukan selain gaji bulanan sebagai karyawan. Jangan sampai menunggu sampai menjelang masa pensiun, atau bahkan setelah pensiun baru memulai usaha. Hal tersebut relatif lebih berisiko dibanding mulai usaha (dan sukses atau gagal) dari muda. Usaha setelah pensiun dengan modalnya dari uang hasil pensiun kantor, ya Alhamdulillah kalau langsung sukses dan berhasil, kalau misalnya gagal dan uang pensiun habis? Kan bisa suram tuh masa tua., hehe…
Mereka juga bilang, mumpung masih muda, di saat masih punya tenaga, kesempatan, dan mimpi-mimpi besar, manfaatkanlah untuk memulai sebuah usaha/bisnis/startup. Kalau usahanya gagal sewaktu masih jadi karyawan, toh masih ada pemasukan untuk hidup diri dan keluarga. Dan pada saat ini masih banyak kesempatan untuk mendapatkan modal; dari pinjaman koperasi, bank, atau pihak lain. Mencicil pinjaman pun terasa lebih ringan karena gaji pasti masuk tiap bulan, dibanding setelah umur senja (mikirin biaya sekolah/kuliah anak, renovasi rumah, warisan, dll). Dan biasanya, ketika usia sudah relatif tua, keberanian untuk mengambil risiko (baca: kesempatan) relatif kurang dibanding sewaktu masih muda.
Saya manggut-manggut dalam hati, bener banget apa yang dikatakan tersebut. Alhamdulillah saya sudah memikirkan hal tersebut jauh sebelum saya menikah dan membentuk rumah tangga bersama istri saya sekarang. Bahwa ketika saya menikah nanti, saya ingin kami berdua mempunyai sebuah usaha yang dirintis bersama, berpeluh keringat dan dinikmati hasilnya bersama. Dan saat ini, walaupun masih sangat kecil-kecilan, kami berdua sudah mulai merenda mimpi besar kami dari helaian benang-benang kecil, merangkai anak tangga satu per satu menuju langit di mana mimpi kami digantungkan.
Ya, kami akan terus melangkah maju, walau langkah terseret dan perlahan-lahan. Bismillah..






Recent Comments