Archive for » August, 2012 «

Tips Memilih Dokter Anak

image

Dokter anak merupakan satu kebutuhan yang tidak mungkin terelakkan jika Anda sudah memiliki anak. Karena itu, dalam memilih dokter anak harus dipikirkan dengan serius, terlebih jika Anda adalah tipe orangtua yang “berprinsip”, seperti berprinsip untuk memberikan ASI hingga dua tahun, dll, dsb..

Tahu sendiri kan betapa sekarang yang lazim terjadi di sekitar akan mempersulit dalam mempertahankan prinsip tersebut. Anggapan lumrah yang lebih “mendewakan” susu formula, mitos-mitos yang dipercaya oleh orangtua kita seperti jika bayi sakit, ibulah yang meminum obatnya supaya obat juga bisa diberi pada bayi melalui ASI, dll. Kalau gak punya partner yang oke (selain suami) dalam mengawal prinsip kita tentunya akan sulit.

Saya pernah suatu ketika dibuat sangat kesal oleh dsa anak saya. Hanya karena anak saya “langsing” (berat badannya masih termasuk normal padahal), dia lantas memberi saran untuk menggunakan sufor dan memberi anak saya makan biskuit. Tanpa bermaksud menyudutkan orangtua yang memang memilih sufor dan biskuit (untuk mpasi) anaknya, saya sebagai orangtua yang berprinsip memberi ASI dan MPASI homemade untuk anak tentu merasa tersinggung. Sejak saat itu, saya tidak pernah menginjakkan kaki lagi di ruangannya. Selain tidak pro ASI, yang mana tidak sesuai prinsip saya, beliau juga kurang bisa diajak diskusi.

Saya pun mencari dsa lain untuk anak saya. Ini kriteria saya dalam mencari dsa, mungkin bisa jadi tips juga untuk ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian:
1. Pro ASI
Dokter yang tidak serta merta menyarankan sufor hanya karena bb anak kita yang kurang atau karena perawakan anak kita yang langsing (padahal masih masuk rentang normal). Nilai plus kalau dia juga konsultan laktasi sehingga bisa memberi saran dan semangat pada kita untuk terus memberi ASI hingga 2 tahun

2. Pro RUM
RUM itu singkatan dari Rational Use of Medicine. Didefinisikan sebagai “patients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for an adequate period of time, and at the lowest cost to them and their community”.

Dokter yang pro RUM menurut saya antara lain bisa dilihat dari mudah tidaknya dia meresepkan segambreng obat atau antibiotik ketika anak sakit. Alhamdulillah, dsa anak saya yang sekarang orangnya pro RUM. Beliau tidak lantas memberi antibiotik ketika anak saya sakit.

3. Enak diajak diskusi
Dsa yang baik menurut saya dan terlebih suami (yang tidak mudah menerima saran kecuali melalui argumentasi yang kuat) adalah dsa yang enak diajak diskusi dan mau menjelaskan panjang lebar mengenai berbagai hal. Mengapa anak saya bisa kena penyakit tersebut, mengapa harus diberi tindakan medis ini, mengapa harus diberi obat itu, tindakan home treatment apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tertentu adalah contoh di mana kami meminta penjelasan yang baik. Alhamdulillah dokternya Hani yang sekarang enak banget diajak diskusi.

Terkadang tanpa diminta pun dia memberi penjelasan. Jadi gak rugi juga kan bayar biaya konsultasi yang mahal kalau info yang didapat banyak hahaha.

Oh ya dari diskusi dengan dokter Hani yang sekarang, saya jadi dapat “ilmu” bahwa “hometreatment” tidak dapat sembarang dilakukan tanpa melalui arahan dari dokternya (baik melalui media telepon, bbm, smd dalam menerima arahan).Home diagnosis aka orangtua menebak-nebak sendiri penyakit anak dan melakukan treatment sendiri berdasar tebakannya atau berdasar pengalaman orangtua lain adalah contoh home treatment yang salah. Terapi uap dengan menggunakan minyak kayu putih adalah contoh home treatment yang tidak bisa sembarang dilakukan ternyata. Minyak kayu putih yang digunakan harus dilihat apakah bisa digunakan dengan diuapkan. Karena kata dsa-nya Hani ada yang justru bisa memperparah sakit anak.

4. Mudah dihubungi
Mudah dihubungi melalui telepon, sms, atau bbm adalah nilai plus sekali. Apalagi jika tiba-tiba anak sakit mendadak, jika dsa mudah dihubungi tentu akan sangat membantu. Saya sendiri bahkab sudah temenan dengan dsa-nya Hani di bbm dan pernah bertanya melalui bbm yang ditanggapi dengan responsif olehnya.

So, ibu-ibu dan bapak-bapak sudahkah Anda mendapat dsa yang “terbaik” untuk anak Anda?

NB: DSA anak saya saat ini adalah dokter Kiki Samsi di RS Puri Cinere (sekedar berbagi) ;)

Category: Anak  Tags: , , ,  One Comment

Peralatan Perang MPASI Hani

Sebelum memulai MPASI ada baiknya mempersiapkan “peralatan perang”nya.. bisa dicicil belinya loh bu bahkan sebelum si kecil menginjak 6 bulan..

Sekedar gambaran, ini beberapa peralatan MPASI-nya Hani:

1. Blender
Sering dipakai nih untuk menghaluskan buah dan membuatnya menjadi puree. Alhamdulillah blender-nya Hani dapat lungsuran dari uti-nya jadi gak perlu beli lagi..

2. Feeding set
Terdiri dari mangkok, piring, dan sendok bayi. Pastinya yang ini selalu dipakai tiap makan.

3. Training/sippy cup

image

Gelas bergagang kiri kanan biasanya diisi air putih. Gelas yang waktu itu dibeli buat Hani yang ujungnya memakai spout (bukan dot). Ternyata Hani malah gak suka, dia selalu mengernyitkan dahi sambil menarik-narik spout tadi dengan mulutnya hahaha.. pada akhirnya, Hani lebih sering minum langsung dari gelasnya (spout dicopot) atau minum dari cup-nya dulu :p

4. Babby cubes/ice cubes

image

Digunakan untuk membekukan MPASI yang dibuat. Biasanya cukup berguna untuk ibu-ibu yang ingin kepraktisan dalam mempersiapkan MPASI seperti saya :p Cukup sekali buat makanan di pagi hari. Porsi untuk makanan di sore hari atau esok harinya bisa dituang ke dalam babby cubes dan ditaruh di freezer untuk dibekukan atau ditaruh di kulkas bawah saja jika ingin dikonsumsi pada hari yang sama.

Saya biasanya langsung mengolah satu buah kemudian membaginya ke dalam beberapa porsi untuk ditaruh di babby cubes. Langsung mengolah satu buah dalam satu waktu karena buah itu cepat busuk dan tercemar kalau sudah dipotong-potong.

Saya beli baby cubes ukuran 70ml di kiddobaby.com

5. Home food maker

image

Satu set peralatan pembuat MPASI yang cukup lengkap. Punya Hani merek-nya Ku.Ku Duckbill. Satu set terdiri dari pemeras jeruk, saringan, serutan (untuk menyerut buah atau sayur), penumbuk, dan tempat menampung hasil perasan atau serutan.

6. Booster seat atau high-chair

image

image

Saya dan Sidik ingin mengajari Hani untuk “disiplin”. Makan dalam posisi duduk menghadap meja, bukan sambil tiduran atau sambil jalan-jalan. Karena itulah, kami membelikan Hani booster seat. Bukan high chair karena harga high chair sangatlah muahaaaal haha.. selain itu kelebihan booster seat ini adalah bisa dilipat sehingga travel-friendly. Alhamdulillah, Hani seneng banget duduk dan makan di kursinya ini.

7. Slaber
image

Namanya juga bayi, baru belajar makan, pasti rusuh dan belepetan ke mana-mana. Nah, slaber ini dipakai supaya tumpahan makanannya gak terlalu mengotori baju walaupun ujung-ujungnya si Hani pasti dimandiin juga habis makan karena belepetannya ke mana-mana bahkan sampai ke rambut hahaha

Oya kalau males beli slaber, pake popok kain juga bisa kok.. tapi ya kalo pakai popok kain, belepetannya masih bisa nembus sampai ke baju karena lebih tipis dari slaber.

********

Ya, kira-kira itu beberapa peralatan perang MPASI Hanidi awal-awal. Ada beberapa yang opsional. Jadi tergantung sama ibu-ibu semua mau melengkapi apa untuk buah hatinya ;)

MPASI Perdana Hani!!

Baby Hani makan puree alpukat + ASI

Alhamdulillah, tanggal 13 Agustus kemarin, Hani genap berumur 6 bulan dan berhak “diwisuda” menyandang gelar S1 ASI.. :D

Itu berarti, Hani juga berhak mendapatkan “hadiah” spesiaaaal yaitu makanan solid pertamanya aka MPASI ahaiiii..

Berhubung tanggal 13 Agustus jatuh pada hari Senin (hari kerja) sedangkan saya pengen momen MPASI perdana ini dilihat juga oleh ayahnya, maka saya majukan saja jadwalnya sehari lebih cepat menjadi 12 Agustus (Minggu).

MPASI perdana Hani adalah puree alpukat yang dicampur dengan ASI perah. Alpukat yang digunakan adalah alpukat mentega. MPASI perdana ini dapat dibilang cukup sukses walaupun gak sukses-sukses banget ahahaha.. Untuk awal, Hani berhasil menghabiskan setengah mangkok puree alpukat. Yayyyy! Hani sepertinya kurang suka dengan rasa alpukat yang hambar hehe.. Hari berikutnya, saya masih memberikan Hani puree alpukat tapi kali ini diencerkan dengan sari jeruk baby. Saya berusaha mengikuti 3-4 days rule yang mengatakan satu jenis makanan dicobakan terhadap bayi selama maksimal 4 hari untuk dilihat ada reaksi alergi atau tidak baru kemudian diganti dengan yang lain. Saya sih gak ambil maksimal-nya, saya cobakan 1 jenis makanan selama 2 hari ke Hani baru kemudian diganti makanan lain.

Hari berikutnya saya cobakan puree pepaya + ASI perah. Pepaya yang digunakan adalah pepaya California. Seperti biasa, tampang Hani lucu sekali ketika pertama disuapin puree pepaya. Tapi, lambat laun dia makin lahap! Gak nyangka, ternyata Hani doyaaan sekali. Sendoknya aja sampai digigit-gigitin. Satu mangkok ludesss dimakannya. Bahkan, saya sampai membuat lagi puree pepaya-nya karena sepertinya dia masih mau hihi..

Dari beberapa hari MPASI yang sudah dilewatin, alhamdulillah tidak ada tanda-tanda alergi pada Hani. Pup-nya pun gak disangka menjadi lancar (Hani tipe bayi ASIX yang gak pup tiap hari, pernah sampai 14 hari gak pup hehe, tapi emaknya santai saja karena Hani juga gak rewel).

Semakin semangat nih untuk menyediakan MPASI rumahan buat Hani.. doakan saya ya! ;D

* * *

Sedikit tips untuk ibu-ibu yang akan memulai MPASI perdana buah hati-nya:

1. Cari pengetahuan mau memulai MPASI dari buah atau karbo dulu. Setiap pilihan pasti ada pertimbangannya. Browsing aja di internet atau baca-baca buku

2. Siapin peralatan MPASI-nya.. simple aja: blender, parutan (kalo gak punya blender buah bisa diparut), pisau, training cup (sippy cup, gelas bergagang untuk tempat air putih), mangkuk, panci.. Kalau bisa semua peralatan tadi disediakan khusus untuk si bayi. Misal, pisau jangan pakai pisau yang biasa untuk motong bawang, sayuran dan lainnya..

3. Siapin hati untuk liat reaksi si kecil terhadap MPASI. Karena tidak semua kisah MPASI berjalan indah hihihi.. soalnya pernah liat banyak anak-anak yang bener-bener gak suka dikasih makan, harus pakai acara nangis-nangis heboh dulu