Blog Archives

Orangtua Seperti Apa?

JLEB!

Sudah menjadi orangtua seperti apakah saya ketika anak saya masih “dependent” sama saya?

Sudahkah saya melayaninya bermain dengan riang gembira ketimbang melayani hasrat diri bermain dengan gadget kesayangan?

Sudahkah saya memberikan perhatian banyak kepadanya ketika ia sedang ingin bermanja-manja?

Sudahkah.. Sudahkah saya berusaha keras menjadi orangtua yang baik untuknya?

Mari merenunginya lagi..

Category: Anak  Tags: , ,  Leave a Comment

Hani dan Sepatu Barunya!

Hani dan sepatu barunya! Happy banget :D

Hani dan sepatu barunya! Happy banget :D

Ceritanya, Sabtu lalu, Hani lagi seneng banget karena punya sepatu baru yang kece berat. Yes, sepatu warna pink cantik keluaran Oshkosh B’Gosh.

Sepatu baru Hani: Oshkosh B'Gosh Quinn

Sepatu baru Hani: Oshkosh B’Gosh Quinn

Dari sekian banyak sepatu yang Hani punya (eh cuman 2 deng yang dipakai setiap hari, dan 2 lagi yang masih disimpan hoho), sepatu Oshkosh ini keliatan “beda” dibanding yang lain. Dilihat dari segi bahan dan kualitas keliatan “menonjol” dibandingkan yang lainnya. Dan ternyata memang sepatu tersebut terbuat dari bahan yang ‘eco friendly’, dibuat dari bahan baku alami sehinggan 100% dapat didaur ulang! Luar biasa :D

Selain itu, kalau diperhatikan dengan seksama, ada yang menarik loh. Menarik dan gak umum. Makanya nih, emaknya Hani sampe bela-belain ngebahas ini di blog hihi.

Apa yang menarik dan unik?

Pertama, ketika lagi iseng membolak-balik sepatu tersebut, saya menemukan tulisan-tulisan “lucu” di sol sepatunya. Ada tulisan “place heel here”, “toe zone”, dan “too small”. Jujur aja yang pertama keluar di pikiran saya dan langsung saya lontarkan ke suami saya dengan polosnya ketika itu adalah: “Yah, tulisan ‘place heel here’ nih maksudnya sepatunya bisa dipasangin heels gitu jadi kayak sepatu ‘high heels’ yaa?”. Dan dengan sama-sama polosnya (apa dung-dung yak haha), suami saya menjawab “Iya kali yaa”. Dan kebingungan itu terjawab ketika saya menemukan tulisan “pencerah” di web tempat sepatu tersebut dijual: http://toezonefootwear.com. Penasaran?

Jadi, tulisan-tulisan yang ada di balik sol sepatu tersebut adalah bagian dari inovasi terbaru dalam dunia persepatuan. Halah. E tapi serius hehe. Sebuah inovasi bernama “Toezone Technology” yang membantu dalam melakukan “fitting” atau pengukuran sepatu anak dengan mudah.

Toezone, sistem pengepasan sepatu di bagian outsole sepatu (sol sepatu bagian luar)

Toezone, sistem pengepasan sepatu di bagian outsole sepatu (sol sepatu bagian luar)

Anak tidak perlu berkali-kali memasukkan kakinya ke dalam beragam sepatu untuk mendapatkan ukuran yang cocok di mana hal ini bisa jadi menjenuhkan mereka atau juga “melukai” kulit mereka yang masih lembut (kalo anaknya masih bayi ya). Cara mengukurnya cukup dengan menempelkan telapak kaki anak di outsole sepatu, jika kaki anak sebelah kiri pergunakan sepatu sebelah kanan. Letakkan tumit tepat pada tulisan “place heel here” jika ujung jari terpanjang ada di bawah tulisan “toe zone” artinya sepatu itu kebesaran dan jika melewati tulisan “toe zone” artinya sepatunya kekecilan. Jika ujung jari terpanjang tepat berada di tulisan “toe zone” itu artinya sepatu itu pas dengan ukuran kaki anak. Kalo Hani, pas di ukuran US 5 atau UK 4 atau kalau di Indonesia biasanya pakai ukuran EUR: 22.

Pesan moralnya: makanya kalo jadi pembeli, jadilah smart buyer yak buibuk. Cari info sebanyak-banyaknya tentang produk yang akan dibeli biar gak muncul pernyataan-pernyataan “dung-dung” kayak saya tadi hahaha. Anyway, web http://toezonefootwear.com oke bangetlah info-infonya. Asal pembeli gak males baca aja ya. Lengkap tuh penjelasannya di situ.

Hal menarik kedua dari sepatu ini adalah ketika saya menemukan label putih yang diprint di bagian dalam sepatu, bertuliskan “Made in Indonesia”!

“Made in Indonesia” :D

Aw, aaaw, kaget plus bangga aja. Ternyata, sepatu Oshkosh yang saya taunya brand dari Amerika (CMIIW) ini buatan (dibuat di?) Indonesia. Buatan anak negeri ternyata gak kalah keren dari buatan luar.

Nah, buat emak-emak yang mau juga sepatu sekece punya Hani tapi bingung beli di mana ato gak ada waktu untuk belinya, saya rekomendasikan untuk klik web ini: http://toezonefootwear.com. Webstore tersebut menjual beragam sepatu mulai dari sepatu bayi hingga sepatu anak berumur lebih dari lima tahun. Mulai dari brand Oshkosh B’Gosh, Apps, dan Toezone Kids. Tidak hanya menjual beragam sepatu tapi juga aksesoris sepatu, seperti shoe lace, dll. Toezonefootwear.com pun menjamin garansi 90 hari untuk produk yang dijualnya, jika sepatu yang diterima ada cacat produksi.

Gak usah khawatir dengan urusan “pengepasan” sepatu. Gak usah khawatir akan membeli sepatu yang kekecilan atau kebesaran di webstore ini. Soalnya website Toezonefootwear.com menyediakan fasilitas untuk memilih ukuran sepatu. Sesuai bangetlah dengan motto Toezone footwear yakni “the fitting experts”.

Dengan menggunakan sistem print fit, kita dapat mencetak ukuran sepatu yang ditaksir dan mencocokkannya dengan ukuran kaki anak. Sistem ini menjamin ukuran sepatu yang akan dipesan sesuai sehingga pas dan nyaman di kaki anak.

Untuk mak-emak “sibuk” (pontang-panting ke sana kemari kejar-kejaran sama bocil yang super aktif) sehingga susah online dari PC seperti saya :p mengakses web http://toezonefootwear.com lewat mobile sangatlah menyenangkan. Ringan sekali dan cepat.

Tampilan mobile webstore http://toezonefootwear.com Ringan dan mudah diakses

Tampilan mobile webstore http://toezonefootwear.com Ringan dan mudah diakses

Saya aja mulai dari registrasi member dan memilih-milih sepatu melakukannya melalui mobile webstorenya. Jadi mau sambil nenenin anak, mau sambil main ama anak, mau sambil masak, atau apapun tetep bisalah yaa nyempetin lirik-lirik model sepatu yang oke untuk anak di web tersebut.

Selain itu, yang bikin hati senang, ongkos kirimnya gratiiiis tiiis tiiiis ke seluruh Indonesia jika nilai pembelanjaan di atas Rp 150.000. Huasyiiik banget memang. Penasaran? Penasaraaan? Mangga lah langsung dijajal, biar anaknya bisa mejeng juga dengan sepatu kece seperti Hani xD *dipentung se-RT karena emaknya songong* :p

Pendengar vs Peniru

Pas lagi “membaca” timeline twitter, tiba-tiba melihat quote yang satu ini dari akun @AyahBunda :

“Anak-anak tidak pandai mendengarkan orangtua, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru orangtua” – James Baldwin

Tiba-tiba termenung.. Kalo gk salah dulu saya juga pernah ngetwit hal yang mirip-mirip. Dicuplik dari tayangan “Buah Hati” di TransTV. Tentang kecenderungan anak dalam mencontoh, 25% dari perkataan, 75% dari perbuatan.

Termenung lagi.. Bener juga sih. Karena dipikir-pikir, anak pertama kali belajar dengan melihat kemudian menirukannya. Anak balita seperti Hani, belum mengerti diajak berbicara bahasa kompleks. Kemampuan komunikasi lalu bernalar ini pastinya berkembang setelah mereka beranjak dewasa. Makanya kenapa keteladanan melalui TINDAKAN lebih “ngena” di anak-anak ketimbang melalui perkataan. Karena anak-anak itu cenderung menjadi peniru ketimbang pendengar yang baik.

Yeah, semoga saja ayah dan bunda bisa menjadi teladan yang baik untuk Hani nanti! Aamiin :D

Lima Kesalahan Pola Asuh

Makjleb! Simpen di blog aja ah.. Artikelnya dari AyahBunda

* * *

5 KESALAHAN POLA ASUH

Kesalahan-kesalahan berikut ini, sering tak kita sadari, padahal berpengaruh buruk pada anak-anak. Ralat dari sekarang yuk!

1. SMS/BBM tiada henti. Saat anak minta ditemani bermain, mengajak bicara atau sekedar kangen minta dipeluk, Anda tak mempedulikannya karena jari sibuk ber-sms ria. Anak jadi rewel dan menganggu ingin merebut ponsel. Anda jengkel, memanggil pengasuh dan minta pengasuh membawa balita menjauh. Anak belajar memahami bahwa keadirannya tidak penting dan kemudian mengembangkan perilaku masa bodoh. Di usia selanjutnya, saat Anda membutuhkannya, bisa-bisa ia tak peduli.

2. Minta anak berbohong. Ketika terlihat tetangga hendak mampir ke rumah, Anda cepat-cepat berbisik di telinga balita, “Bilang Tante Irma, ibu lagi di kamar mandi, ya,” atau malah disuruh mengatakan ibu sedang pergi. Anak pun paham bahwa berbohong itu boleh. Sedikit demi sedikit ia belajar berbohong, hingga kelak mahir mengelabui Anda.

3. Bermuka dua. Berpura-pura manis saat tetangga datang meminjam majalah. Begitu sang tetangga balik badan, Anda kontan ngedumel, “Minjam melulu. Beli sendiri, kenapa?” Anak belajar bersikap munafik, pura-pura baik supaya dianggap baik.

4. Tidak sportif. Menyaksikan kemenangan anak dalam suatu lomba memang membanggakan. Tapi ketika balita kalah dalam lomba fashion show misalnya, Anda berusaha menghibur hatinya (dan Anda!) dengan kata-kata yang salah, “Duh sayang, kok kamu kalah ya? Padahal kamu tadi oke banget lho! Pasti jurinya salah pilih.” Anak belajar menyalahkan orang lain, tidak menerima kekalahan dan tidak punya cara lebih baik untuk menghibur diri selain menyalahkan.

5. Melanggar lalu lintas. “Ah, tanggung!” begitu baisanya alasan ketika menerobos lampu kuning yang siap merah. Menambah kecepatan untuk menambah kesempatan, memang lebih enak ketimbang memperlambat laju kendaraan dan antre menunggu lampu merah. Kalau anak sudah paham rambu, ia belajar bahwa aturan boleh dilanggar. Kalau anak belum paham rambu, ia akan belajar bahwa lampu kuning artinya boleh jalan. Padahal ini membahayakan diri sendiri dan orang lain.

HINDARI KESALAHAN!
- Pikirkan yang akan dilakukan. Anak memperhatikan Anda. Tanyakan pada diri sendiri, “Kalau saya melakukan ini, apa akibatnya?”
- Terlibat dalam kehidupan anak. Memikirkan kembali dan mengatur prioritas. Apa yang Anda lakukan adalah yang dibutuhkan balita.
- Sesuaikan pengasuhan dengan usia anak. Sadari perkembangan anak. Ia terus bertumbuh, dan usianya menentukan perilakunya.
- Buat aturan. Bila Anda bermaksud membentuk perilaku positif anak, tetapkan aturan apa yang tidak boleh dilakukannya.
- Konsisten. Bila Anda menetapkan aturan untuk anak, patuhi juga aturan yang Anda buat sendiri. Anda melanggar, anak pun melakukannya.
- Tidak memanjakan, bukan berarti tidak mencintai. Anak butuh cinta bukan dimanjakan. Perilaku anak yang dimanja sama seperti anak yang tak dicintai, senang membuat keributan.
- Tak melakukan kekerasan, baik fisik, mental maupun verbal. Hukuman fisik atau pelecehan secara verbal membangun anak menjadi sosok yang suka berkelahi.
- Hargai dan hormati anak. Bila Anda ingin dihargai dan dihormati anak, hargai dan hormati mereka.

sumber: www.ayahbunda.co.id

Category: Anak  Tags: , ,  Leave a Comment

Catatan Setahun Hani

Alhamdulillah, gak kerasaaaa banget, malaikat kecil kami yang cantik berusia setahun pada 13 Februari yang lalu. Begitu banyak perkembangan yang sudah dilaluinya. Kalo flashback lagi, dimulai dari saat-saat mengharapkan kehadirannya, sampai ia dilahirkan ke dunia ini dan sebesar sekarang rasanya masih gak percaya :’)

Dari kosong, kemudian segumpal daging di rahim saya, lalu menyapa dunia dengan tangisannya. Dari yang tadinya cuman bisa nen, pup, pipis, nangis, tidur lambat laun bisa membalikkan badan, gulang-guling, duduk sendiri, merangkak, rambatan, berdiri, dan berjalan. Satu yang masih belum berubah sejak bayi, Hani masih setia menjadi neneners, hahaha. Semoga saja bisa lulus sampai S3 ya. Aamiin :D

Banyak fase dilewati. Fase-fase galau saya ketika di awal-awal memilikinya. Melihatnya gumoh, muntah ASI dari hidung saja sudah buat saya syok dan menangis. Perasaan tidak bisa menjadi ibu yang baik sempat menghantui. Beruntunglah ada suami yang selalu menguatkan dan mendukung. Fase-fase khawatir terhadap perkembangan Hani juga sempat mampir. Melihat bayi kakak ipar yang umur sekian sudah bisa begini begitu, kadang membuat iri haha. Sejak itu, saya pun giat melakukan stimulasi yang bisa diberikan untuk melatih perkembangan motorik Hani. Walaupun saya juga selalu diwanti-wanti bahwa perkembangan setiap anak adalah unik. Alhamdulillah, so far, perkembangan motorik Hani gak bermasalah. Kalo dipikir-pikir perkembangannya bahkan tergolong cepat juga. Di usianya yang belum genap setahun saja, dia sudah mahir berjalan hehe :D

Sekarang, Hani sudah berkembang menjadi seorang gadis kecil yang siap “diisi” dengan hal-hal baik. Dia sudah bisa meniru perbuatan orang di sekitarnya. Dia pun sudah bisa diajak berkomunikasi.

Semoga saja di era golden age-nya ini, ayah dan bunda bisa menjadi teladan untuk Hani dalam perkataan dan perbuatan yang baik. Semoga kami orangtuanya dapat mendidiknya menjadi gadis mungil yang berkarakter positif dan berakhlak baik. Tidak mudah namun harus terus diusahakan. Doakan yaa! :)