Tips Memilih Dokter Anak
Dokter anak merupakan satu kebutuhan yang tidak mungkin terelakkan jika Anda sudah memiliki anak. Karena itu, dalam memilih dokter anak harus dipikirkan dengan serius, terlebih jika Anda adalah tipe orangtua yang “berprinsip”, seperti berprinsip untuk memberikan ASI hingga dua tahun, dll, dsb..
Tahu sendiri kan betapa sekarang yang lazim terjadi di sekitar akan mempersulit dalam mempertahankan prinsip tersebut. Anggapan lumrah yang lebih “mendewakan” susu formula, mitos-mitos yang dipercaya oleh orangtua kita seperti jika bayi sakit, ibulah yang meminum obatnya supaya obat juga bisa diberi pada bayi melalui ASI, dll. Kalau gak punya partner yang oke (selain suami) dalam mengawal prinsip kita tentunya akan sulit.
Saya pernah suatu ketika dibuat sangat kesal oleh dsa anak saya. Hanya karena anak saya “langsing” (berat badannya masih termasuk normal padahal), dia lantas memberi saran untuk menggunakan sufor dan memberi anak saya makan biskuit. Tanpa bermaksud menyudutkan orangtua yang memang memilih sufor dan biskuit (untuk mpasi) anaknya, saya sebagai orangtua yang berprinsip memberi ASI dan MPASI homemade untuk anak tentu merasa tersinggung. Sejak saat itu, saya tidak pernah menginjakkan kaki lagi di ruangannya. Selain tidak pro ASI, yang mana tidak sesuai prinsip saya, beliau juga kurang bisa diajak diskusi.
Saya pun mencari dsa lain untuk anak saya. Ini kriteria saya dalam mencari dsa, mungkin bisa jadi tips juga untuk ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian:
1. Pro ASI
Dokter yang tidak serta merta menyarankan sufor hanya karena bb anak kita yang kurang atau karena perawakan anak kita yang langsing (padahal masih masuk rentang normal). Nilai plus kalau dia juga konsultan laktasi sehingga bisa memberi saran dan semangat pada kita untuk terus memberi ASI hingga 2 tahun
2. Pro RUM
RUM itu singkatan dari Rational Use of Medicine. Didefinisikan sebagai “patients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for an adequate period of time, and at the lowest cost to them and their community”.
Dokter yang pro RUM menurut saya antara lain bisa dilihat dari mudah tidaknya dia meresepkan segambreng obat atau antibiotik ketika anak sakit. Alhamdulillah, dsa anak saya yang sekarang orangnya pro RUM. Beliau tidak lantas memberi antibiotik ketika anak saya sakit.
3. Enak diajak diskusi
Dsa yang baik menurut saya dan terlebih suami (yang tidak mudah menerima saran kecuali melalui argumentasi yang kuat) adalah dsa yang enak diajak diskusi dan mau menjelaskan panjang lebar mengenai berbagai hal. Mengapa anak saya bisa kena penyakit tersebut, mengapa harus diberi tindakan medis ini, mengapa harus diberi obat itu, tindakan home treatment apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tertentu adalah contoh di mana kami meminta penjelasan yang baik. Alhamdulillah dokternya Hani yang sekarang enak banget diajak diskusi.
Terkadang tanpa diminta pun dia memberi penjelasan. Jadi gak rugi juga kan bayar biaya konsultasi yang mahal kalau info yang didapat banyak hahaha.
Oh ya dari diskusi dengan dokter Hani yang sekarang, saya jadi dapat “ilmu” bahwa “hometreatment” tidak dapat sembarang dilakukan tanpa melalui arahan dari dokternya (baik melalui media telepon, bbm, smd dalam menerima arahan).Home diagnosis aka orangtua menebak-nebak sendiri penyakit anak dan melakukan treatment sendiri berdasar tebakannya atau berdasar pengalaman orangtua lain adalah contoh home treatment yang salah. Terapi uap dengan menggunakan minyak kayu putih adalah contoh home treatment yang tidak bisa sembarang dilakukan ternyata. Minyak kayu putih yang digunakan harus dilihat apakah bisa digunakan dengan diuapkan. Karena kata dsa-nya Hani ada yang justru bisa memperparah sakit anak.
4. Mudah dihubungi
Mudah dihubungi melalui telepon, sms, atau bbm adalah nilai plus sekali. Apalagi jika tiba-tiba anak sakit mendadak, jika dsa mudah dihubungi tentu akan sangat membantu. Saya sendiri bahkab sudah temenan dengan dsa-nya Hani di bbm dan pernah bertanya melalui bbm yang ditanggapi dengan responsif olehnya.
So, ibu-ibu dan bapak-bapak sudahkah Anda mendapat dsa yang “terbaik” untuk anak Anda?
NB: DSA anak saya saat ini adalah dokter Kiki Samsi di RS Puri Cinere (sekedar berbagi)





Recent Comments